Shift kerja menjadi salah satu sistem penjadwalan yang digunakan perusahaan untuk mengatur pembagian jam kerja karyawan sesuai kebutuhan operasional bisnis. Melalui sistem ini, perusahaan dapat menjaga produktivitas, memperluas jam layanan, dan memastikan aktivitas operasional tetap berjalan tanpa hambatan. 

Namun, mengatur jadwal shift kerja bukanlah hal yang sederhana. HR perlu mempertimbangkan kebutuhan tenaga kerja, rotasi jadwal, waktu istirahat, hingga kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan. 

Dengan strategi yang tepat, sistem shift kerja dapat membantu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menjaga kesejahteraan karyawan. 

Apa Itu Shift Kerja?

Shift kerja adalah sistem pembagian jam kerja yang digunakan perusahaan untuk memastikan operasional tetap berjalan dalam periode tertentu, baik 2 shift, 3 shift, maupun 24 jam penuh.

Sistem ini umum diterapkan pada perusahaan manufaktur, rumah sakit, retail, logistik, keamanan, call center, hingga perusahaan yang menyediakan layanan pelanggan sepanjang hari.

Berbeda dengan jam kerja normal yang umumnya berlangsung pada pagi hingga sore hari, sistem shift memungkinkan perusahaan membagi waktu kerja karyawan ke dalam beberapa kelompok sesuai kebutuhan operasional.

Penerapan shift kerja yang baik dapat membantu perusahaan menjaga produktivitas, meningkatkan pelayanan kepada pelanggan, serta memastikan beban kerja karyawan tetap terdistribusi secara seimbang.

1. Gunakan HRIS untuk Mengelola Jadwal Shift Kerja 

Semakin banyak perusahaan menggunakan HRIS untuk mengatur jadwal kerja karyawan. Melalui HRIS, HR dapat:

• Membuat jadwal lebih cepat
• Mengelola rotasi otomatis
• Memantau kehadiran real-time
• Menghitung lembur lebih akurat
• Mengurangi kesalahan administrasi

Selain menghemat waktu, penggunaan HRIS juga membantu perusahaan menjaga transparansi dalam pengelolaan jadwal kerja.

Baca Juga: Apa itu HRIS? Simak 5 Manfaat HRIS bagi Karyawan dan Perusahaan

2. Analisis Kebutuhan Operasional Terlebih Dahulu

Sebelum membuat jadwal kerja, HR perlu memahami kapan perusahaan membutuhkan jumlah tenaga kerja terbesar. Misalnya:

  • Retail ramai saat akhir pekan
  • Rumah sakit membutuhkan tenaga kerja 24 jam
  • Pabrik memiliki target produksi per shift

Data ini membantu perusahaan menentukan jumlah karyawan yang dibutuhkan pada setiap periode kerja sehingga tidak terjadi kekurangan maupun kelebihan tenaga kerja.

3. Pilih Sistem Shift Kerja yang Sesuai 

Tidak semua perusahaan membutuhkan pola kerja yang sama. Beberapa sistem yang umum digunakan antara lain:

3 Shift2 Shift
Pagi07.00-15.0007.00-15.00
Sore15.00-23.0015.00-23.00
Malem23.00-07.00

Shift Rotasi
Karyawan bergantian menempati jadwal pagi, sore, dan malam dalam periode tertentu. Pemilihan pola harus disesuaikan dengan kebutuhan operasional dan jumlah tenaga kerja yang tersedia.

4. Terapkan Rotasi Shift Kerja yang Adil 

Salah satu penyebab keluhan karyawan adalah pembagian jadwal yang dianggap tidak merata. Sebisa mungkin hindari kondisi di mana karyawan tertentu selalu mendapatkan shift malam sementara yang lain hanya bekerja pada shift pagi.

Rotasi yang adil membantu menjaga motivasi kerja sekaligus mengurangi risiko kelelahan.

5. Susun Jadwal Minimal Satu Minggu Sebelumnya

Jadwal yang berubah mendadak sering menjadi sumber konflik. Karena itu, perusahaan sebaiknya mempublikasikan jadwal kerja minimal satu minggu sebelum periode kerja dimulai.

Langkah ini memberi waktu bagi karyawan untuk mengatur aktivitas pribadi dan mempersiapkan diri.

6. Perhatikan Ketentuan Jam Kerja

Dalam pengaturan shift, perusahaan tetap harus memperhatikan aturan ketenagakerjaan yang berlaku. Misalnya:

  • Batas jam kerja normal
  • Waktu istirahat
  • Ketentuan lembur
  • Hak cuti karyawan

Kepatuhan terhadap regulasi membantu perusahaan menghindari risiko pelanggaran hukum dan menjaga kesejahteraan tenaga kerja.

7. Hindari Pergantian Shift yang Terlalu Cepat

Karyawan yang baru menyelesaikan shift malam sebaiknya tidak langsung dijadwalkan bekerja pada shift pagi berikutnya.

Tubuh membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan energi. Pengaturan yang kurang tepat dapat meningkatkan risiko kelelahan, kesalahan kerja, bahkan kecelakaan kerja.

Baca Juga: People Analytics: Cara HR Berbicara dengan Data kepada Direksi

8. Siapkan Mekanisme Tukar Shift

Dalam praktiknya, tidak semua karyawan dapat hadir sesuai jadwal. Karena itu, perusahaan perlu memiliki prosedur tukar shift yang jelas. Misalnya:

  • Harus mendapat persetujuan atasan
  • Dilakukan minimal 24 jam sebelumnya
  • Dicatat dalam sistem perusahaan

Prosedur yang jelas membantu menghindari kekacauan jadwal.

9. Sesuaikan Jumlah Karyawan dengan Beban Kerja

Setiap periode kerja memiliki kebutuhan yang berbeda. Saat volume pekerjaan meningkat, perusahaan dapat menambah jumlah personel pada shift tertentu.

Sebaliknya, ketika aktivitas menurun, perusahaan dapat menyesuaikan jumlah tenaga kerja agar lebih efisien. Pendekatan ini membantu mengoptimalkan biaya tenaga kerja tanpa mengganggu operasional.

10. Evaluasi Jadwal Secara Berkala

Jadwal yang efektif tahun lalu belum tentu cocok untuk kondisi saat ini. Karena itu, HR perlu melakukan evaluasi terhadap:

  • Tingkat absensi
  • Produktivitas tim
  • Frekuensi lembur
  • Permintaan tukar shift
  • Keluhan karyawan

Data tersebut dapat menjadi dasar untuk memperbaiki sistem penjadwalan.

Manfaat Pengaturan Shift Kerja yang Baik

Pengaturan shift yang tepat tidak hanya membantu operasional perusahaan berjalan lancar, tetapi juga memberikan maanfat berkepanjangan lainnya.

Meningkatkan Produktivitas

Jumlah tenaga kerja dapat disesuaikan dengan volume pekerjaan pada setiap periode sehingga aktivitas operasional berjalan lebih optimal.

Memperluas Jam Operasional

Perusahaan dapat tetap memberikan layanan kepada pelanggan di luar jam kerja normal.

Mengurangi Risiko Kekurangan Tenaga Kerja

Penjadwalan yang baik membantu memastikan setiap shift memiliki jumlah personel yang cukup.

Meningkatkan Kepuasan Karyawan

Pembagian jadwal yang adil membuat karyawan merasa lebih dihargai dan mengurangi potensi konflik antar anggota tim.

Kesimpulan

Mengatur shift karyawan tidak hanya bertujuan memastikan operasional berjalan lancar, tetapi juga menjaga produktivitas dan kesejahteraan tenaga kerja. Dengan menerapkan rotasi yang adil, memperhatikan waktu istirahat, serta memanfaatkan HRIS untuk otomatisasi penjadwalan, perusahaan dapat menciptakan sistem kerja yang lebih efektif dan minim konflik.

logo phiro cta

Phiro Neo bantu kelola jadwal shift karyawan lebih mudah

Melalui HRIS seperti Phiro Neo, perusahaan dapat membuat jadwal shift kerja secara lebih cepat, mengatur rotasi otomatis, memantau kehadiran secara real-time, hingga menghitung lembur berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan.